-----
Rabu, 26 Februari 2025
Wamen Pelindungan
Pekerja Migran Beri Kuliah Umum di Unhas
Ulas Peluang Karier Global dan Fenomena
#Kaburajadulu
MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA).
Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, Dzulfikar Ahmad Tawalla, menjadi
pembicara pada kuliah umum bertajuk “From Campus to Global Impact: Membangun
Karir di Sektor Formal Internasional” yang diadakan Universitas Hasanuddin
(Unhas), di Arsjad Rasjid Lecture Theater, Kampus Unhas Tamalanrea, Makassar,
Senin, 24 Februari 2025.
Kuliah umum dihadiri sekitar
dua ratus mahasiswa dari berbagai fakultas. Juga hadir Wakil Rektor Bidang
Akademik dan Kemahasiswaan Unhas, Prof Muhammad Ruslin, yang dalam sambutannya
menekankan pentingnya dukungan bagi Unhas dalam pengembangan pendidikan dan
karier mahasiswa.
“Kami berharap banyak pihak, terutama yang
berada di puncak kekuasaan, memahami bahwa Unhas perlu mendapat dukungan lebih
besar. Dengan jumlah student body mencapai 58 ribu mahasiswa, kami terus
melakukan efisiensi pendidikan tanpa mengorbankan mutu, bahkan meningkatkan
standar dengan kurikulum yang lebih maju, seperti program fast track,” ujar Ruslin.
Lebih lanjut, ia menyoroti peran Career
Center Unhas dalam memperkuat soft skill mahasiswa.
“Bukan hanya ijazah yang dibutuhkan di
dunia kerja, tetapi juga dua hingga tiga soft skill. Oleh karena itu, kami
mengembangkan berbagai kegiatan yang mendukung pengembangan talenta mahasiswa,
termasuk program yang memungkinkan mahasiswa mengambil hingga 20 SKS di luar
program studi utama mereka,” tambah Ruslin.
Pelindungan Pekerja Migran Indonesia,
Dzulfikar Ahmad Tawalla, dalam kuliah umumnya menyinggung tren #kaburajadulu
yang telah viral selama dua pekan terakhir. Ia menganggap tagar tersebut
sebagai ekspresi sosial yang mencerminkan keresahan generasi muda terhadap
kondisi dunia kerja.
Menurutnya, problematika ini disebabkan
berbagai faktor, termasuk perkembangan digitalisasi dalam sepuluh tahun
terakhir dan kemajuan pesat kecerdasan buatan (AI) dalam lima tahun terakhir,
yang berkontribusi terhadap menurunnya rasio serapan tenaga kerja.
“Tagar #kaburajadulu adalah terminologi
baru, tetapi fenomenanya sudah ada sejak lama. Kami ingin membawa tagar ini ke
arah yang lebih positif. Kami berharap masyarakat yang bekerja di luar negeri
dapat menyerap banyak hal baik, seperti relasi, teknologi, dan pengetahuan,
yang kemudian dapat dikembangkan kembali di Indonesia,” ujar Fikar, sapaan akrab
Dzulfikar.
Ia juga menyoroti besarnya peluang kerja
di luar negeri, dengan permintaan tenaga kerja asing yang diprediksi mencapai
1,6 juta orang. Tahun ini, Arab Saudi sendiri membutuhkan sekitar 200 ribu
pekerja dari Indonesia.
Namun, Dzulfikar menekankan bahwa sebelum
memutuskan untuk bekerja di luar negeri, calon pekerja migran harus
mempersiapkan diri dengan matang.
“Harus ada lima kesiapan utama, yaitu
kesiapan fisik, mental, kompetensi, dokumen, dan visa. Bekal paling penting
adalah kompetensi bahasa,” tegas Fikar.
Di akhir pemaparannya, ia mengingatkan
bahwa kesetiaan terhadap negara merupakan hal fundamental. Oleh karena itu,
masyarakat yang ingin menjadi pekerja migran harus mengikuti prosedur resmi
agar mendapatkan perlindungan yang maksimal.
Kuliah umum ini berlangsung interaktif,
dengan antusiasme tinggi dari peserta. Banyak mahasiswa yang aktif bertanya
kepada narasumber mengenai peluang dan tantangan bekerja di luar negeri. (kia)