Berkasmaran dengan Tuhan

Berbulan madulah dengan Rabmu di bulan Ramadhan, agar bisa bersalaman dengan husnul khotimah yang tulen nan lillahi Ta'ala tanpa terbatasi lagi.

 

--------

PEDOMAN KARYA

Kamis, 27 Maret 2025

 

Berkasmaran dengan Tuhan

 

Oleh: Maman A. Majid Binfas

(Sastrawan, Akademisi, Budayawan)

 

Memukadimahin goresan ini dengan menukil kembali diksi Bahasa Bima/Mbojo yang terbagi pada Senin, pukul 07:07, 03 Maret 2025, di media online, mengenai Puasa Jeroan.

Dalam filosofis Mbojo berpesan melalui diksi berpantun, lebih terkesan simbolik gaya diksi bersyair atau mengarah pada ragam sifat semiologi/semiotics yang bermakna sangat dalam dan tajam.

Misalnya, diksi puasa jeroan bukan hanya maknanya yang terkesan sangat tajam dan dalam, tetapi juga kandungan filosofis ancaman keakhiratan yang sungguh menakutkan hingga merinding bulu kuduk.

Bila diksi tersebut, diucapkan oleh tokoh masyarakat yang bisa diteladani, di antaranya, sebagaimana diksi spontanitas berikut;

Wunga puasa maleke' ai'jana mpa'a waliku kai tai lako, tesajapu dosa ma wara wau, kone ndiwau mu tundu' ro lemba wunga ndi dula mbali lambo'mu_

Manakala, di saat pelaksanaan puasa lagi kental yang maksimal, jangan pula bermain kotoran / isi jeroan anjing_  sedangkan dosa yang telah ada pun tak bisa dipangku juga dijunjung ketika berpulang kembali / mati atau dipanggil Tuhan!

Manakala demikian, maka esensi puasa mungkin akan lebih bermakna isi jeroan dari yang terbiasa menggonggong, tanpa mengenali bulan apapun di hadapan jadi kiblatnya.

Namun, namanya anjing tetap saja berdada arogansi dengan moncong gonggongannya tanpa semiologi / semiotics lagi.

 

Mana Dadamu

 

Terpenting telah sejak dini diperingati, jangan bermain yang bisa menyesakkan dan juga meledakin dada!

Bila, kini telah dinikmati akibat akrobatinnya, tentu mesti berterima dengan lapang dada pula!

Ini Aku, masih berdada tak berubah bah dulu bermelodi enjoy aje tanpa beban, dan tetap saja dengan diksi bersajak sabar lillahi.

Lalu, mana dadamu nan kini makin bersenandung melodi dangdutan yang geliakannya, selalu bernada solek remukan tanpa diduga jua arah kiblatannya.

 

Kiblat Derita dan Bahagia

 

Puncak dari derita atau bahagia akan berdetak di dalam sukma mata batin berjiwa nurani.

Ia selalu bersirkulasi detak data tiada henti menjadi jawaban haqikih dari Tuhan tanpa bisa dipungkiri berakar dari "Inna ma'al usri yusro' / Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (Al-Insyirah: 6)

Tentu, bagi yang berkeyakin tulen kepada Tuhan hingga ber-“Qul huwallahu ahad; Katakanlah, Dialah Allah, Yang Maha Tunggal / Esa” jadi kiblatannya.

Maka, berbulan Madulah dengan Tuhan, baik di saat derita atau bahagia, tanpa terbatasi hingga tiada berhingga.

 

Berkasmaran dengan_Nya

 

Berbulan madulah dengan Rabb-mu di bulan Ramadhan, agar bisa bersalaman dengan husnul khotimah yang tulen nan lillahi Ta'ala tanpa terbatasi lagi.

Berhingga “Nurun 'ala Nurin”_Nya  akan berseru _”Wahai jiwa yang tenang kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridho dan diridhoi-Nya dan masuklah ke dalam surgaku.” (QS Al Fajr: 27-30).

Manakala, telah tiba seruan Tuhan demikian, tentu tak mengenal dini, pagi, siang, sore dan malam hari. Maka, siap atau tidak mesti klimaks akan dikemasin kasmaran, apa pun bentuknya.

Maka, lebih eloknya Aku memaksimalin senggama berkasmaran dengan Tuhan di akhir Ramadhan ini, berhingga puncak berklimaks pada Arsy, _guna melebur di dalam "Nurun 'ala Nurin" Nya!

Walahu'alam...

 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama