Dekan Fakultas Teknik Unhas Isran Ramli Ceramah Buka Puasa di Unismuh Makassar

CERAMAH BUKA PUASA. Dekan Fakultas Teknik Unhas Makassar, Prof Muhammad Isran Ramli, membawakan ceramah pada acara Buka Puasa Bersama Universitas Muhammadiyah Makassar, di Balai Sidang Muktamar 47 Kampus Unismuh, Jalan Sultan Alauddin, Makassar, Rabu, 26 Maret 2025. (Foto tangkapan layar di Youtube: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)

 

------

Kamis, 27 Maret 2025

 

Dekan Fakultas Teknik Unhas Isran Ramli Ceramah Buka Puasa di Unismuh Makassar

 

Bahas AI dalam Perspektif Kajian Literasi Islam


MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Dekan Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Muhammad Isran Ramli, membawakan ceramah pada acara Buka Puasa Bersama Universitas Muhammadiyah Makassar, di Balai Sidang Muktamar 47 Kampus Unismuh, Jalan Sultan Alauddin, Makassar, Rabu, 26 Maret 2025.

Isran Ramli membawakan ceramah dengan tema: “Artificial Intelligence (AI) dalam Perspektif Kajian Literasi Islam”, di hadapan Rektor Unismuh Dr Abdul Rakhim Nanda, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel Prof Ambo Asse, Wakil Rektor I Dr Burhanuddin, Wakil Rektor II Prof Andi Sukri Syamsuri, Wakil Rektor IV Dr KH Mawardi Pewangi, serta para pejabat, dosen, karyawan dan sivitas akademika serta para undangan.

Dalam ceramahnya, Isran Ramli menyebut bahwa Artificial Intelligence (AI) tidak akan pernah menggantikan nilai-nilai akhlak dan kejujuran manusia. Ia mengingatkan pentingnya umat Islam untuk tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga penafsir moral dari setiap capaian sains modern.

“AI bisa membuat ceramah, menyusun khutbah, bahkan menganalisis ayat-ayat Al-Qur’an dalam hitungan detik, tetapi ingat, ini buatan. KW. Tidak ori. Harus ada verifikasi, harus ada kebijaksanaan,” ujar Isran yang juga merupakan kader Muhammadiyah.

Isran, yang mengaku membuat materi presentasi hanya dalam waktu lima menit menggunakan fitur AI Copilot di Microsoft, tidak bermaksud meremehkan kemampuan teknologi. Justru, ia ingin membuka mata sivitas akademika tentang besarnya potensi AI — sekaligus risiko jika tak disertai kesadaran etik.

Dalam pemaparannya, Isran menyebut bahwa AI bekerja berdasarkan data masa lalu dan algoritma yang meniru cara berpikir manusia.

“Jangan bayangkan AI ini sakral. Ia hanya secerdas data yang dikonsumsi. Maka umat Islam harus tetap menjadi filter,” kata Isran.

Salah satu gagasan menarik yang disampaikan Isran adalah bagaimana AI justru bisa memperkuat dakwah Islam, jika diarahkan dengan bijak. Ia mencontohkan aplikasi Ikhraf dan Analyze Al-Qur’an, yang memungkinkan pengguna menggali kandungan ayat dengan cepat dan tepat.

“Bayangkan, kita dulu belajar tafsir pakai indeks Fatur Rahman, cari ayat berjam-jam. Sekarang? Setengah detik. Tapi kemudahan ini harus dibarengi dengan kesadaran. Jangan serahkan semuanya ke mesin,” ujar Isran.

Ia mengisahkan bagaimana dirinya melatih dosen dan mahasiswa menggunakan aplikasi AI berbasis Al-Qur’an.

“Bu Dekan Keperawatan Unhas, Prof Ariyanti, bahkan ikut kajian saya,” kata Isran sambil tersenyum menoleh ke arah Prof Ariyanti, yang juga hadir dalam buka puasa bersama Unismuh Makassar.

Namun demikian, ia tetap memperingatkan adanya sisi gelap AI, seperti penyalahgunaan dalam perjudian daring, manipulasi e-commerce, atau konten tak senonoh yang bisa diakses anak-anak.

“Ini PR kita. Umat Islam harus menjadi pagar moral,” kata Isran.

Menutup ceramahnya, Isran menegaskan bahwa keberadaan AI tidak boleh membuat umat Islam kehilangan jati diri sebagai ulil albab — kelompok manusia yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai cerdas secara spiritual dan intelektual.

“AI ini cerdas, tapi bukan ulil albab. Kitalah yang harus memandu. Gunakan teknologi, tapi jangan tinggalkan hikmah,” kata Isran. (kia)


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama