------
Kamis, 27 Maret 2025
Dekan Fakultas Teknik
Unhas Isran Ramli Ceramah Buka Puasa di Unismuh Makassar
Bahas AI dalam Perspektif Kajian Literasi
Islam
MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA).
Dekan Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Muhammad Isran Ramli,
membawakan ceramah pada acara Buka Puasa Bersama Universitas Muhammadiyah Makassar,
di Balai Sidang Muktamar 47 Kampus Unismuh, Jalan Sultan Alauddin, Makassar,
Rabu, 26 Maret 2025.
Isran Ramli membawakan ceramah dengan tema:
“Artificial Intelligence (AI) dalam Perspektif Kajian Literasi Islam”, di
hadapan Rektor Unismuh Dr Abdul Rakhim Nanda, Ketua Pimpinan Wilayah
Muhammadiyah Sulsel Prof Ambo Asse, Wakil Rektor I Dr Burhanuddin, Wakil Rektor
II Prof Andi Sukri Syamsuri, Wakil Rektor IV Dr KH Mawardi Pewangi, serta para
pejabat, dosen, karyawan dan sivitas akademika serta para undangan.
Dalam ceramahnya, Isran Ramli menyebut
bahwa Artificial Intelligence (AI) tidak akan pernah menggantikan nilai-nilai
akhlak dan kejujuran manusia. Ia mengingatkan pentingnya umat Islam untuk tidak
sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga penafsir moral dari setiap
capaian sains modern.
“AI bisa membuat ceramah, menyusun
khutbah, bahkan menganalisis ayat-ayat Al-Qur’an dalam hitungan detik, tetapi
ingat, ini buatan. KW. Tidak ori. Harus ada verifikasi, harus ada
kebijaksanaan,” ujar Isran yang juga merupakan kader Muhammadiyah.
Isran, yang mengaku membuat materi
presentasi hanya dalam waktu lima menit menggunakan fitur AI Copilot di
Microsoft, tidak bermaksud meremehkan kemampuan teknologi. Justru, ia ingin
membuka mata sivitas akademika tentang besarnya potensi AI — sekaligus risiko
jika tak disertai kesadaran etik.
Dalam pemaparannya, Isran menyebut bahwa
AI bekerja berdasarkan data masa lalu dan algoritma yang meniru cara berpikir
manusia.
“Jangan bayangkan AI ini sakral. Ia hanya
secerdas data yang dikonsumsi. Maka umat Islam harus tetap menjadi filter,” kata
Isran.
Salah satu gagasan menarik yang
disampaikan Isran adalah bagaimana AI justru bisa memperkuat dakwah Islam, jika
diarahkan dengan bijak. Ia mencontohkan aplikasi Ikhraf dan Analyze Al-Qur’an,
yang memungkinkan pengguna menggali kandungan ayat dengan cepat dan tepat.
“Bayangkan, kita dulu belajar tafsir pakai
indeks Fatur Rahman, cari ayat berjam-jam. Sekarang? Setengah detik. Tapi
kemudahan ini harus dibarengi dengan kesadaran. Jangan serahkan semuanya ke
mesin,” ujar Isran.
Ia mengisahkan bagaimana dirinya melatih
dosen dan mahasiswa menggunakan aplikasi AI berbasis Al-Qur’an.
“Bu Dekan Keperawatan Unhas, Prof
Ariyanti, bahkan ikut kajian saya,” kata Isran sambil tersenyum menoleh ke arah
Prof Ariyanti, yang juga hadir dalam buka puasa bersama Unismuh Makassar.
Namun demikian, ia tetap memperingatkan
adanya sisi gelap AI, seperti penyalahgunaan dalam perjudian daring, manipulasi
e-commerce, atau konten tak senonoh yang bisa diakses anak-anak.
“Ini PR kita. Umat Islam harus menjadi
pagar moral,” kata Isran.
Menutup ceramahnya, Isran menegaskan bahwa
keberadaan AI tidak boleh membuat umat Islam kehilangan jati diri sebagai ulil
albab — kelompok manusia yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai cerdas secara
spiritual dan intelektual.
“AI ini cerdas, tapi bukan ulil albab.
Kitalah yang harus memandu. Gunakan teknologi, tapi jangan tinggalkan hikmah,” kata
Isran. (kia)