Idul Fitri: Memahami Makna Lebaran, Luberan, Leburan, dan Laburan

Setelah sebulan penuh kita berpuasa, tibalah saatnya kita merayakan Idul Fitri. Namun, jangan sampai kebahagiaan ini menghapus nilai-nilai yang telah kita bangun selama Ramadhan. (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)

-----

PEDOMAN KARYA 

Ahad, 30 Maret 2025


Kultum Ramadhan:


Idul Fitri: Memahami Makna Lebaran, Luberan, Leburan, dan Laburan
 

Oleh: Furqan Mawardi

(Muballigh Akar Rumput)

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُه
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita kesempatan untuk menuntaskan ibadah Ramadhan. Shalawat dan salam kita haturkan kepada Rasulullah ﷺ, teladan kita dalam menjalani hidup yang penuh keberkahan. 

Kini, setelah sebulan penuh kita berpuasa, tibalah saatnya kita merayakan Idul Fitri. Namun, jangan sampai kebahagiaan ini menghapus nilai-nilai yang telah kita bangun selama Ramadhan. 

Mari kita renungkan makna mendalam dari kata "Lebaran" dan tiga istilah lainnya: "Luberan," "Leburan," dan "Laburan."


1. Lebaran: Kembali ke Fitrah

Lebaran sering diartikan sebagai hari raya setelah Ramadhan. Namun, lebih dari sekadar perayaan, lebaran mengandung makna kembali kepada kesucian, seperti yang Allah firmankan:
فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
"(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Ar-Rum: 30)

Setelah berpuasa, kita diharapkan kembali kepada fitrah, yaitu keadaan suci sebagaimana bayi yang baru lahir. Namun, kesucian ini hanya akan tetap terjaga jika kita mempertahankannya dengan amal shalih dan ketakwaan. Jangan sampai setelah Ramadhan, kita kembali kepada kebiasaan buruk sebelum bulan suci ini datang.


2. Luberan: Keberkahan yang Melimpah

Luberan berarti meluap, yang menggambarkan limpahan berkah di bulan Ramadhan yang seharusnya terus mengalir setelahnya. 

Ramadhan mengajarkan kita untuk berbagi, sebagaimana dalam hadis Rasulullah ﷺ:
"Barang siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang berpuasa tersebut." (HR. Tirmidzi, no. 807)

Ketika kita telah merasakan nikmatnya berbagi selama Ramadhan, maka setelah Ramadhan pun kita harus tetap memelihara semangat memberi. Jangan sampai setelah Ramadhan, kita menjadi kikir dan tidak peduli terhadap sesama. Hendaknya kita menjadikan momen Idul Fitri sebagai titik awal untuk terus menebar kebaikan dan berbagi rezeki kepada mereka yang membutuhkan.


3. Leburan: Menghapus Dosa dan Kesalahan

Leburan bermakna melebur, yang berarti menghapus segala dosa dan kesalahan di masa lalu. Ramadhan telah menjadi ajang penyucian diri melalui puasa, ibadah, dan istighfar. 

Rasulullah ﷺ bersabda: "Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari, no. 38)

Namun, pengampunan ini harus kita jaga dengan tidak kembali melakukan dosa yang sama setelah Ramadhan. Seperti pakaian putih yang telah dicuci bersih, hendaknya kita tidak kembali mengotorinya dengan perbuatan yang dilarang oleh Allah. Ujian sebenarnya adalah setelah Ramadhan apakah kita tetap istiqamah atau kembali terjerumus dalam kemaksiatan?


4. Laburan: Memperbaiki dan Memutihkan Kembali Diri

Laburan berasal dari kata “melabur,” yang dalam budaya Jawa berarti mengecat ulang agar tampak bersih dan baru. Dalam konteks Ramadhan dan Idul Fitri, ini berarti memperbarui diri dengan komitmen baru untuk menjadi pribadi yang lebih baik. 

Allah berfirman:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
"Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Ankabut: 69)

Laburan dalam hidup kita berarti tekad untuk terus meningkatkan kualitas ibadah, akhlak, dan kepedulian sosial. Jangan sampai Ramadhan hanya menjadi momen sesaat tanpa membawa perubahan yang nyata dalam kehidupan kita setelahnya.

Saudara-saudaraku sekalian, Idul Fitri bukanlah akhir dari perjalanan spiritual kita, melainkan awal dari sebuah ujian baru: mampukah kita menjaga kemurnian Ramadhan di bulan-bulan berikutnya.

Lebaran bukan sekadar perayaan, tetapi momen refleksi dan perbaikan diri. Mari kita jaga keberkahan Ramadhan dengan tetap istiqamah dalam ibadah, berbagi dengan sesama, menjauhi dosa, dan terus tiada lelah  memperbaiki diri.

Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan menjadikan kita hamba-hamba yang terus bertakwa. Taqabbalallahu minna wa minkum. Kullu ‘am wa antum bikhair.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama